Rimbawan ! Mungkin awalnya bukanlah pilihan namun akhirnya itulah pilihanku. Hampir tidak pernah saya mendengar ada anak kecil yang mengatakan “ Kalo udah gede, ade mau jadi Rimbawan !” atau “dede cita-citanya mau jadi Polhut aja ah !” atau “enak ya kalo jadi orang utan !”. Ketika harus memutuskan sekolah di SKMA, keinginan itu tidak lepas dari dorongan kuat orang tua yang mengharapkan anaknya cepat dapat kerja setelah tamat, bukan karena profesi Rimbawan. Atau bisa jadi si anak tertarik melihat pangkat yang membebani pundak anak SKMA, sementara pungungnya yang tertutup penuh dengan bekas goresan karena panjangnya jalan yang ditempuh dengan merayap, atau mungkin tertarik dengan senyum anak SKMA yang penuh wibawa, padahal di dalam kampus senyum itu hanyalah sebuah ketakutan pada senior dan pembina, karena senyum sesungguhnya adalah setelah pengumuman kelulusan dan setelah lulus. Bahkan setelah memasuki masa kuliah, fakultas Kehutanan hampir menjadi tempat pelarian akhir, setelah dibeberapa jurusan pilihannya tidak diterima.

Terbaptis Sebagai Rimbawan !

Cita-cita dan pilihan menjadi Rimbawan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan itu, akhirnya tercapai juga. Setelah menempuh pendidikan 3 tahun di Kampus SKMA, akhirnya diwisuda juga, jadilah Rimbawan. Setelah 2 tahun di Sukabumi kampus Wirawana, akhirnya diswisuda juga, Rimbawanlah kau. Setelah 5 tahun kuliah, akhirnya diwisuda juga, jadilah Rimbawan. Setelah 1 tahun pendidikan Polhut, menerima SK PNS, 2 tahun berdinas, jadilah Rimbawan. Setelah menerima SK CPNS, ditempatkan di Dinas Kehutanan, 2 tahun berdinas, jadilah Rimbawan. Ketika kata Rimbawan telah terbaptis pada dirinya, sangat sulit untuk keluar dari profesi tersebut, walaupun tidak bekerja atau berdinas di bidang Kehutanan atau yang tidak ada kaitannya dengan Rimbawan. Keakraban, sejarah masa lalu, tugas-tugas mulia, dan bangunan kekeluargaan Keluarga Besar Rimbawan, telah menjadikan setiap Rimbawan ingin di akhir hidupnya kata Rimbawan itu telah melekat pada dirinya. Demikianlah seperti yang dikatakan Bung Karno, JASMERAH (Jangan Sampai Melupakan Sejarah).
Tugas Mulia !
Menjadi Rimbawan jika kita memaknai dari harapan Bumi ini dan setiap makhluk yang ada di atasnya, maka akan sangat jelas begitu mulia tugas seorang Rimbawan. Lengkaplah sudah kemudian Kementrian Kehutanan membentuk Rimbawan-Rimbawan pilihannya menjadi tenaga Pengendali Ekosistem Hutan (PEH). Sementara kedudukan Hutan sendiri adalah kunci pengendali ekosistem Bumi ini. Artinya, kelestarian atau terkendalinya ekosistem Hutan ini, akan mampu menjaga terkendalinya ekosistem Bumi ini, sehingga kehidupan ini dapat terus berlanjut sesuai dengan sistem yang telah ditentukan dari Sang Pencipta. Yang bertani, akan terus mengairi sawahnya, yang anggota DPR akan terus menghuni Senayan, yang nelayan akan terus hidup nyaman ditepi pantai, tanpa takut permukaan air laut naik merendam rumahnya, yang Polisi akan tenang bertugas tanpa harus takut memikirkan keluarganya di rumah terkena bencana banjir, dan yang bernapas akan terus bernapas tanpa harus takut kekurangan oksigen, dan yang minum akan terus melegakan dahaganya dengan air. Semuanya akan berjalan sesuai sistemnya, dengan syarat Hutan tetap lestari. Jika kita simak lebih dalam, tugas utama Rimbawan adalah menjaga Hutan. Allah Azzawajalla, telah menciptakan bumi ini dengan Hutan di dalamnya, kemudian manusia membuat aturan dan mendirikan pemerintahan, kemudian pemerintah menetapkan Kawasan Hutan sebagai Hutan Tetap untuk dipertahankan kelestariannya sebagaimana ketika Allah Azzawajalla menciptakan. Maka Rimbawan adalah khalifah yang memiliki tugas mulia untuk mempertahankan apa yang ketika pertama kali Allah ciptakan. Menjadi jelas, bahwa setiap mahluk di Bumi ini sangat mengharapkan kerja keras dari para Rimbawan untuk mengendalikan ekosistem Hutan, Ekosistem Bumi ini. Masihkan Rimbawan bukan menjadi pilihan ?

Para Rimbawan Berkata !
Lalu mengapa Anda memilih Rimbawan ?