Tanpa disadari, ternyata masyarakat kita saat ini banyak menjadikan tayangan Televisi sebagai referensi utama dalam pengetahuan, informasi, bahkan perilaku keseharian. Televisi telah menjadi sarana untuk melakukan contoh-contoh keinginan diri agar mirip atau sama persis seperti tayangan di Televisi. Apa yang ditampilkan di televisi ingin selalu ditiru agar diri penikmat Televisi seakan-akan menjadi bagian dari televisi tersebut dan orang disekitarnya mengatakan “Oh, ternyata dia tidak ketinggalan info”. Ketika seseorang menonton televisi, dalam hati penikmat Televisi mengatakan “Saya harus seperti itu !“; “Suatu saat saya juga akan seperti itu !”; “Mmmmm…kayaknya itu boleh juga !”; “Iya ya, memang begitu sekarang !”; dan banyak ungkapan-ungkapan lainnya yang seakan-akan membenarkan apa yang ada di televisi. Dan jika pun tidak disetujui, penikmat Televisi mengatakan bahwa itu tidak benar namun begitulah kebanyakan masyarakat kita sekarang. Misalnya saja tayangan kasus-kasus korupsi dan penyuapan yang selalu jadi Headline setiap stasiun Televisi. penikmat Televisi merasa gerah dengan perilaku korupsi dan suap tersebut, dan akhirnya mengeneralisasi jika perilaku seperti itu ada dimana saja, terutama di pemerintahan, yang akhirnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap siapa saja menjadi pudar dan selalu penuh kecurigaan dan akhirnya budaya Shuzon sesama anak bangsa menjadi nyata.

Televisi juga telah banyak melahirkan artis-artis dan tokoh-tokoh top baru yang instant, baik itu tokoh yang baik dan tokoh yang jahat. Semuanya menjadi referensi utama untuk layak dijadikan ditiru seperti di Televisi versi keinginan setiap penikmat Televisi. “Anda kurang duit ? Minta no ama Gayus ! “; “Wuih, rumah kamu koq reot banget, numpang tuh ama Bahasyim !”; “Rekan barunya Batman di Indonesia….. Susno….. !”.

Menonton Televisi juga sudah seperti mata pelajaran dan mata kuliah tersendiri bagi tiap penonton. Budaya baca buku menjadi kurang karena telah menjadikan Televisi sebagai referensi utama dalam analisis tiap permasalahan utamanya hal-hal yang hangat di Televisi.

Televisi telah menjadikan transformasi informasi, teknologi dan perilaku menjadi sangat cepat dan mudah untuk ditiru. Dan apa yang diambil serta di praktekan dari Televisi tidak semuanya merupakan hal yang baik, bahkan tidak sedikit merupakan hal-hal yang dalam kaca mata dan etika moral merupakan hal yang buruk. Kita melihat bagaimana aksi anarkis demonstran atau juga para suporter berlaku merata di seluruh daratan Indonesia.

Menonton Televisi juga telah menjelma menjadi pekerjaan utama selain mencari rejeki bagi sumber penghasilan

Jika kita membagi kelompok penonton dalam satu lingkungan keluarga, maka akan didapatkan kelompok penikmat Televisi sebagai berikut :

  1. Ayah                                               :               penikmat Televisi acara Berita dan informasi, sebagian Olah                                                                   Raga, Siraman Rohani.
  2. Anak laki-laki dewasa               :               penikmat Televisi acara Berita dan informasi, olah raga,                                                                                           Adventure; Film
  3. Ibu                                                   :               Sinetron, sinetron, sinetron, telenovela, gosip, acara masak

Ada 3 kelompok besar dalam membagi penikmat Televisi yaitu :

  1. Kelompok pengambil hikmah dari sebuah tayangan; kelompok ini bisa menikmati setiap tayangan Televisi namun setelah menonton tayangan Televisi mereka bisa mengambil hikmah atas tayangan tersebut, memhami maksud dari tayangan Televisi, dan bisa membedakan antara hal yang buruk dan baik atas sebuah tayangan.
  2. Kelompok peniru atas sebuah tayangan; kelompok ini berusaha memahami cara dan apa yang ditonton.
  3. Kelompok pasif atas sebuah tayangan; kelompok ini bukanlah penikmat Televisi tapi hanya sebagai penonton.

Maksud tulisan ini, bukanlah mengenaralisasi bahwa tayangan Televisi itu adalah berbahaya. Setiap informasi termasuk oleh Televisi akan membawa perubahan bagi perkembangan suatu bangsa menjadi lebih baik. Namun kita tidak boleh menutup mata jika tayangan Televisi juga memiliki andil besar dalam perubahan pola perilaku masyarakat Indonesia yang bisa jadi itu adalah perilaku jelek karena sekali lagi agar “Seperti di Televisi”. Maka R-tv itu adalah Racun Televisi.

 

Leave a reply