Tempo hari Kang Beni (Beni Raharjo) menanyakan ke saya bahwa ada tidak aplikasi must-have khusus rimbawan???? Pertanyaan tersebut didasari karena postingan saya  tentang 15 Aplikasi Komputer Yang Wajib Dimiliki. Saya sempat berpikir bahwa pertanyaan ini apakah aplikasi beneran atau sekedar pertanyaan bahwa ada tidak “jiwa” yang must-have (wajib dimiliki) oleh seorang rimbawan?? Dan saya pun berpikir  dan menganggap bahwa pertanyaan Kang Beni itu adalah “jiwa” rimbawan. Terserah betul atau gak yang penting itulah anggapan saya.

Dan kebetulan beberapa hari lalu saya sempat membaca sebuah tulisan yang katanya tulisan itu adalah pidato yang disampaikan oleh (alm) Prof. Dr. Ir. Hasanu Simon. Baru beberapa saat membaca tulisan pada Pidato  (alm) Prof.Hasanu Simon saya terhenyak bahkan  tersinggung dengan sebuah kalimat dalam tulisan beliau itu ………….”satu-satunya hasil hanya kekayaan para pejabat kehutanan yang diperoleh dari pekerjaannya sebagai pengelola hutan”.

Tetapi ketika saya renungkan dengan mendalam, saya mengakui “statement” Prof. Simon tersebut, saya tidak jadi tersinggung, bahkan saya salut dengan kejelian dan ketulusan beliau menyampaikan kalimat tersebut. Memang benar, selama bertahun-tahun saya bekerja tersebut, apa yang telah saya lakukan praktis tidak berbekas , atau dengan kata lain saya tidak menghasilkan apa2,  yang secara signifikan dapat menahan laju kerusakan hutan, atau karena saya bekerja dilitbang dan terbatas dikegiatan penelitian saja.

 Profesionalisme rimbawan (?)

Dengan sentilan Prof Simon tadi saya jadi agak berat atau boleh dikata malu mengaku sebagai “rimbawan”. Karena saya belum melengkapi diri dengan ilmu ilmu yang berkaitan dengan aspek2 sosial kemasyarakatan, berkaitan dengan aspek2 keuangan/bisnis dan berkaitan dengan aspek2 management secara lengkap. Tetapi kekurangan itu secara bertahap saya atasi dengan banyak membaca buku2, mengikuti seminar2, pelatihan2, Saya hanya ingin mengatakan bahwa sebagai PNS yang bekerja di bidang kehutanan, saya merasa belum cukup dengan ilmu dan pengetahuan yang saya dapatkan dari bangku sekolah. Apalagi PNS atau rimbawan lain yang mempunyai gelar berderet-deret, sudah barang tentu ilmu dan pengetahuannya lebih dari cukup untuk melakukan tugas/profesi sebagai seorang rimbawan.

Tetapi mengapa dengan bekal ilmu yang lebih dari cukup itu dibandingkan saya  (atau mungkin dengan beberapa orang yang lain) mereka telah gagal melaksanakan tugas sebagai rimbawan, telah gagal mengemban amanah sebagai penjaga  kelestarian hutan ?? Dan mereka lebih banyak bergelut dikantor dibandingkan terjun langsung kelapangan untuk mengecek laju kerusakan hutan.

 Jiwa rimbawan (?)

Beberapa kali Prof. Simon menyebut “jiwa rimbawan” dalam pidatonya yang dituangkan dalam tulisan itu sebagai yang harus “menaungi” dan “menghidupi” setiap langkah rimbawan dalam melakukan profesinya.

Meskipun  tidak secara spesifik dan gamblang menjelaskan apa sebenarnya yang disebut sebagai jiwa rimbawan, tapi saya memaknai itu sebagai “kultur” , “budaya”, “nilai-nilai”, “kode etik” rimbawan, yang semestinya harus dipunyai, dipelihara, dikembangkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Saya melihat disinilah letak penyebab kegagalan saya atau mungkin beberapa teman lain sebagai PNS lingkup kehutanan (kalau tidak mau atau tidak boleh disebut sebagai rimbawan), dalam mengemban amanah sebagai penjaga kelestarian hutan.

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, kultur sebuah organisasi atau komunitas (rimbawan adalah komunitas profesi), harus mempunyai karakteristik sbb :

  1. Observed behavioral regularities (keteraturan tingkah laku yang diamati)
  2. Norms (Norma norma)
  3. Dominant values (Nilai nilai dominan)
  4. Philosophy (Filosofi)
  5. Rules (Aturan)
  6. Organizational climate (Iklim/ Suasana Organisasi)

(nb= mohon diralat bila salah arti yah???)

Rimbawan pernah merumuskan nilai-nilai dan philosophy rimbawan, sebagaimana yang pernah di ikrarkan di Kaliurang dan di Cangkuang, tapi apa kemudian secara konsekwen dan konsisten ditindak lanjuti?? Apa setelah nilai dan philosophy ditetapkan “organizational climate” telah diciptakan sehingga nilai dan philosophy tadi dapat di implementasikan?? Apa “rules” sudah ditegakkan untuk memberikan “reward” dan “punishment” bagi anggota komunitas rimbawan??

Dengan tegas pertanyaan yang saya ajukan tadi saya jawab sendiri, ……belum sama sekali. Oleh karena itu tidak usah heran kalau sering terjadi konflik vertical dan konflik horizontal antar para rimbawan dalam melakukan tugas profesinya. Tapi saya tidak akan jelaskan konflik apa dan antar siapa meskipun mereka sesama “rimbawan”.

Namun apa yang terjadi? Kendati rimbawan   berkesempatan memegang tampuk pimpinan Institusi tersebut dengan persatuan rimbawan yang sangat “solid”, tetapi tetap saja hancur berantakan karena tidak adanya konsistensi dan komitmen terhadap jiwa, kultur dan budaya rimbawan yang sebenarnya telah pernah dicanangkan itu. Apalagi kalau tampuk pimpinanya bukan basic kehutanan/ rimbawan dadakan.

Apa yang saya ceritakan dimuka tadi sekedar memberi  gambaran, bahwa kegagalan profesi rimbawan (dalam kasus ini adalah saya), lebih banyak disebabkan karena tidak adanya “jiwa, kultur, budaya, kode etik” rimbawan yang kuat, yang dilaksanakan secara konsekwen dan konsisten, yaitu  ditandai dengan indikator-indikator antara lain :

  1. Tidak ada dukungan pada upaya atau inovasi yang dilakukan oleh sesama rimbawan, apalagi sesama alumni.
  2. Tidak ada penghargaan atau apresiasi yang telah dilakukan oleh para senior/pendahulu, kendati itu hal yang baik, sehingga menimbulkan motivasi untuk meneruskan bahkan mengembangkannya.
  3. Terjadi persaingan tidak sehat, sikut menyikut, bahkan “pembunuhan”, hanya karena kepentingan (rebutan) jabatan dan kepentingan/sentimen kelompok kecil  atau pribadi.
  4. Sebagian besar kita kita ini adalah PNS, yang dalam strukturnya pasti hanya akan berada pada “level kebijakan”, bukan “level operasional”, padahal sebuah profesi itu ditandai dengan “ketrampilan operasional”.
  5. Keberhasilan materi/harta kekayaan menjadi ukuran keberhasilan seseorang, bukan keberhasilan yang bersangkutan dalam menjalankan profesinya (sebagai rimbawan).

Terus bagaimana dong??

Terus terang saya belum tahu secara pasti bagaimana cara membangun, meng inseminasi, mengembangkan dan mengimplementasikan secara konsisten dan konsekwen jiwa, kultur, budaya, kode etik rimbawan itu. Yang jelas saya berpendapat bahwa membangun jiwa rimbawan yang kuat  ini menjadi tanggung jawab almamater, dalam hal ini adalah IKA SKMA. Diluar kampus almamater juga harus tetap memantau  inseminasi dan pengembangan jiwa rimbawan ini. Almamater tidak boleh membiarkan ketika alumninya bertikai, apalagi saling “bunuh” satu sama lain hanya karena berebutan jabatan tanpa memandang seberapa besar amanah yang akan ditanggung sebagai penjaga kelestarian hutan.

Mungkin ini adalah aplikasi must-have khusus rimbawan yang ditanyakan oleh Kang Beni. Tapi aplikasi ini belum bisa saya install sampai saat ini karena saya juga belum paham caranya. Mungkin ada yang tahu caranya silahkan beri infonya yah????

 

JAYALAH SKMA

 

Leave a reply