(menuju habitat translokasi orangutan) – Ugi Borneo http://ugiborneo.blogspot.com/

Pulau Kalimantan selain terkenal dengan wilayahnya yang luas, juga memiliki potensi sumber daya alam dan keanekaragaman flora dan fauna yang tidak ternilai. Disebuah tempat terpencil bagian utara Provinsi Kalimantan Tengah tepatnya di wilayah Kecamatan Uut Murung – Kabupaten Murung Raya terdapat deretan bukit yang merupakan bagian dari hulu Sungai Barito (salah satu sungai besar di pulau Kalimantan) menjadi habitat satwa endemik pegunungan Borneo yang oleh masyarakat Kalimantan Tengah dikenal dengan nama Bukit Sapat Hawung yang merupakan sebagian kecil dari untaian Pegunungan Muller. Penduduk setempat menyebut bukit ini dengan nama “Baring Hawun”, dimana baring artinya “bukit tinggi yang besar dan memanjang” dan hawun artinya “embun”. Dinamakan demikian karena bukit tinggi yang memanjang ini bagian puncaknya hampir selalu ditutupi kabut.

Karena karakteristik wilayahnya dan kekhasan flora dan fauna yang dimiliki, maka pemerintah menetapkan Bukit Sapat Hawung menjadi Kawasan Konservasi Cagar Alam melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 705/Kpts/Um/10/1982 tanggal 12 Oktober 1982 jo. Nomor : 174/Kpts/Um/3/1983 tanggal 10 Maret 1983.

Letak dan Luas

Secara geografis Kawasan Konservasi Cagar Alam Bukit Sapat Hawung berdasarkan Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Provinsi Kalimantan Tengah skala 1 : 500.000 Tahun 1982 terletak pada koordinat 0° 19′ 56.30″ sampai 0° 47′ 04.43″ LU dan 114° 00′ 18.05″ sampai 115° 00′ 20.93″ BT dengan ketinggian tempat 200 sampai 1.800 meter diatas permukaan laut (dpl). Sedangkan menurut administrasi pemerintahan masuk dalam wilayah Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah, berada dalam wilayah kerja pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah III Muara Teweh – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Kalimantan Tengah.

Berdasarkan Peta Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Hutan Propinsi Dati I Kalimantan Tengah skala 1 : 500.000 tahun 1982, Kawasan Konservasi Cagar Alam Bukit Sapat Hawung seluas ± 239.000 hektar, yang  berbatasan dengan :
– Sebelah Utara    :    Berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur
– Sebelah Timur    :    Berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur
– Sebelah Selatan    :    Hutan Produksi Terbatas (HPT)
– Sebelah Barat    :    Hutan Lindung Bukit Tutacaru

Pelaksanaan tata batas kawasan Cagar Alam Bukit Sapat Hawung dalam rangka penetapan batas fungsi pernah dilaksanakan oleh Balai Planologi Kehutanan III sepanjang 126 Km yang dibiayai dari Anggaran Bagian Proyek Perencanaan dan Pengukuhan Hutan tahun 1983/1984, sedangkan sisa batas cagar alam yang belum ditata batas sepanjang ± 40 Km. Pelaksanaan kegiatan rekonstruksi sebagian batas oleh Sub BIPHUT Muara Teweh Tahun Anggaran 1999/2000.

Aksesibilitas

Untuk mencapai kawasan, dari Palangkaraya (Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah) dapat ditempuh dengan pesawat perintis ke Muara Teweh (Kabupaten Barito Utara) atau Puruk Cahu (Kabupaten Murung Raya) selama ± 1 jam 30 menit atau melalui transportasi darat selama ± 6 – 8 jam ke Muara Teweh. Selanjutnya dari Muara Teweh menuju Puruk Cahu dengan jarak ± 102 Km dapat ditempuh dengan transportasi darat selama ± 4 jam.

Akses untuk menuju kawasan Cagar Alam Bukit Sapat Hawung termasuk sulit. Dari Puruk Cahu menuju desa sekitar kawasan (Desa Kelasin atau Desa Keramu) ditempuh dengan transportasi darat selama ± 5 jam karena kondisi jalan kurang baik. Selanjutnya untuk masuk kedalam Kawasan Konservasi Cagar Alam Bukit Sapat Hawung dapat ditempuh melalui beberapa anak Sungai Murung (sungai Malu, sungai Buluh dan Sungai Belatung) dengan menggunakan klotok kecil atau cess (sebutan transpotasi air masyarakat lokal berupa perahu sampan terbuat dari kayu yang dipasangi mesin).

Pengelolaan

Dalam pengelolaannya, Cagar Alam Bukit Sapat Hawung berada dalam wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah Seksi Konservasi Wilayah III Muara Teweh, Resort KSDA Puruk Cahu di Puruk Cahu.

Pemeliharaan tata batas dan pengamanan areal menjadi fokus utama, selain itu melalui kerjasama dengan Yayasan BOS-Nyaru Menteng telah melakukan survey potensi habitat orangutan dalam rangka pengusulan Kawasan Cagar Alam Bukit Sapat Hawung sebagai tempat translokasi orangutan.

Flora dan Fauna

Kawasan Konservasi Cagar Alam Bukit Sapat Hawung termasuk tipe hutan hujan tropika basah dataran tinggi yang didominasi famili Dipterocarpaceae (kelompok Meranti). Jenis-jenis Flora antara lain adalah Balau, Keruing, Nyatoh, Mahang, Sial Menahun, Ulin, berbagai jenis Anggrek, Palm gunung, Rotan Pulut, Rotan Manau, Meranti Tembaga, Terentang, Rengas, Kayu Gading, Waru Gunung, Simpur, Durian/Karantungan, Meranti Putih, Terap, Bungur dan Jabon.

Kajian etnobotani di Tumbang Tujang (salah satu desa penyangga) mengungkapkan adanya 44 jenis tumbuhan yang biasa dimanfaatkan untuk obat, 46 jenis tumbuhan yang biasa digunakan sebagai sayuran, dan 26 jenis tumbuhan yang dikategorikan sebagai kayu adat (jenis-jenis tumbuhan yang berperan penting dalam tradisi ritual masyarakat setempat, dan dilindungi secara adat).

Jenis-jenis fauna yang hidup dalam kawasan Konservasi Cagar Alam Bukit Sapat Hawung antara lain adalah Burung Rangkong, Orangutan, Owa-owa, Burung Murai Batu, Burung Merak, Monyet, Ular, Kancil, Rusa, Babi, Beruang Madu dan Kodok beracun.

Iklim

Klasifikasi tipe hujan menurut metode Schmidt and Ferguson (1951) adalah tipe A. Pola curah hujan yang terjadi di sekitar kawasan adalah pola tunggal (pola A single wave) dengan puncak curah hujan tertinggi bertepatan dengan musim winter di belahan bumi utara. Klasifikasi zona agroklimat menurut metode Oldeman (1975) termasuk zona agroklimat B1.

Curah hujan rata-rata tahunan sebesar 2.457,4 mm/tahun sedangkan jumlah hari hujan sebesar 97 hari/tahun. Intensitas hujan rata-rata tahunan sebesar 25,33 mm/hari (Kompilasi data iklim Stasiun Meteorologi Muara Teweh tahun 1992 – 2002).

Suhu udara rata-rata di sekitar Kawasan kisaran antara 26,1˚ – 26,8˚C, dengan suhu udara maksimum kisaran antara 31,1˚ – 32,6˚C sedangkan suhu udara minimum kisaran antara 22,6˚ – 23,3˚C. Kelembapan udara rata-rata tahunan kisaran antara 82,6% – 85,4%.

Topografi

Topografi kawasan konservasi Cagar Alam Bukit Sapat Hawung berdasarkan Peta Kelas Lereng skala 1 : 500.000 dari Balai Planologi Kehutanan III tahun 1980 secara umum bergelombang sampai berat dan curam dengan kelerengan antara 25 % sampai dengan 45 %, sebagian dibeberapa daerah tertentu sangat curam dengan bentang alam berbentuk tebing-tebing yang terjal dan curam.

Kawasan Cagar Alam Bukit Sapat Hawung merupakan daerah pegunungan (Batu Ayau, Pacungapang, Sapat Hawung) yang memanjang dari timur ke barat, apabila dilihat dari tingkat ketinggiannya terdiri 24% dari luas kawasan berada pada ketinggian 200-500 meter dari permukaan laut, terutama di daerah bagian selatan yang berbatasan dengan Areal Hutan Produksi Terbatas,  49,46 % terletak pada ketinggian 600-1.000 meter dari permukaan laut dan 26,53 % terletak pada ketinggian 1.100-1.850 meter diatas permukaan laut pada bagian utara yang berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Timur.

Geologi dan Tanah

Berdasarkan Peta Geologi lembar Long Pahangai sheet 1716, skala 1 : 250.000 (Puslitbang Geologi, 1993), Kawasan Konservasi Cagar Alam Sapat Hawung berkembang dari 2 formasi, yaitu formasi Ujoh Bilang (Tou) pada bagian selatan dan Formasi Batu Ayau (Tea) pada bagian Timur.

Berdasarkan Peta Landsystem (Reppprot) Propinsi Kalimantan Tengah, Skala 1  :  250.000 Tahun 1987 / 1988, jenis tanah kawasan konservasi Cagar Alam Bukit Sapat Hawung terdiri dari jenis podsolik (Tropudults) seluas 34.283 hektar dengan penyebaran pada daerah-daerah datar hingga agak curam, sedangkan dan jenis kambisol (Dystropepts) mencapai luasan 162.685 hektar.
Formasi geologinya meliputi kawasan bukit batu kapur, yang membentuk topografi karst terutama di sekitar puncak Sapat Hawung dengan gua-gua pada dinding dan dasar bukit. Di beberapa tempat batuannya terdiri atas batu pasir dan kuartzit yang membentuk tanah khas. Secara umum tanah kawasan Cagar Alam Sapat Hawung merupakan rangkaian komplek podsolik dengan kedalaman dan kandungan liat yang sangat bervariasi.

Hidrologi

Kawasan Cagar Alam Bukit Sapat Hawung merupakan hulu Sungai Barito yang mengalir dari Kalimantan Tengah hingga ke Kalimantan Selatan dan bermuara di Laut Jawa, dan juga mengaliri beberapa sungai di Provinsi Kalimantan Timur. Hulu sungai Barito ini mengalir dari arah Timur Laut menuju arah Barat Daya dan bermuara pada Sungai Barito. Sungai-sungai yang mengalir arusnya cukup deras, dasar sungainya berbatu-batu dengan tebing yang curam serta banyak terdapat jeram/riam (35 jeram besar, 65 jeram kecil).

Anak sungai yang berada didalam dan sekitar areal kawasan Cagar Alam Bukit Sapat Hawung ini antara lain sungai Belatung, Kapuai, Talun, Buluh, Bajoit, Takurieh, Keramu, Busang, Isam dan Nahuwang. Anak sungai ini rata-rata lebarnya berkisar antara 20-30 meter dengan kedalaman antara 1-2 meter.

Desa-desa Penyangga

Desa yang berdekatan/disekitar kawasan Cagar Alam Bukit Sapat Hawung antara lain Tumbang Jojang, Tumbang Topus, Tumbang Tujang, Jojang Parit, Keramu, Kelasin dan Parahau.

 

 

Leave a reply